Suara Rakyat Republik Indonesia

Batavia Air: molor 10 jam, kompensasi sebungkus mi

Batavia jurusan Surabaya-Balikpapan kemarin (13/8) dengan penerbangan JP-251 memang sangat menyebalkan. Betapa tidak, tarif yang sudah cukup tinggi (Rp 870.000) dan pesawat yang seharusnya berangkat pukul 10.00 (pagi) ditunda beberapa kali, sampai akhirnya berangkat pukul 20.00 lebih. Betapa banyak orang yang dirugikan?

Petugas Batavia di Juanda memberikan informasi penundaan dengan tidak simpatik. Sebab, dia hanya memberi jawaban seperti alasan tukang parkir yang tidak bertanggung jawab atas kendaraan yang diparkir.

Bayangkan, ketika ditunda dari pukul 10.00 ke pukul 12.00, petugas hanya mengatakan pesawat sedang mengalami masalah teknis, sehingga baru berangkat pukul 12.00. Setelah ditunggu-tunggu, penumpang gelisah belum memperoleh informasi lebih lanjut. Ketika penumpang mulai marah, petugas bersikap arogan dan tidak memberikan penjelasan serta ketegasan mengenai keberangkatan.

Setelah didesak ramai-ramai, baru menjelaskan bahwa pesawat baru bisa berangkat pukul 16.30. Didesak mengapa demikian, petugas berkelit tanpa alasan jelas. Pada jam yang dijanjikan, tidak ada pemberitahuan lagi. Ketika penumpang menggertak mengenai jam kepastian berangkat, petugas seenaknya mengatakan pesawat akan berangkat pukul 20.00. Gila sekali. Penjelasannya, pesawat rusak di Palangkaraya dan komponennya masih diambilkan dari Jakarta. Penumpang sangat marah, tapi petugas berusaha menghindar, bahkan mencibir penumpang.

Penumpang yang hendak membatalkan keberangkatan atau minta berangkat esok hari pun dipersulit dengan alasan penerbangan untuk 14 Agustus sudah penuh. ”Penuh? Siapa yang membuat kami seperti ini?” kata sorang calon penumpang.

Setelah digertak secara keras, beberapa orang baru bisa diberangkatkan esok harinya. Batavia tidak bertanggung jawab penuh terhadap penumpangnya? Kompensasi yang diberikan? Cuma makan sebungkus mi. Tidak ada penghargaan sama sekali kepada calon penumpang yang ditelantarkan.

VRITA INDAHRINI, HP 08152030….

September 7, 2008 - Posted by | Penerbangan, Transportasi | ,

1 Comment »

  1. Kerugian yang paling sering dialami konsumen maskapai penerbangan di Indonesia adalah: delay. Sebetulnya delay bukan sesuatu yang tidak pernah terjadi di maskapa penerbangan lainnya di negara lain. Tetapi di Indonesia tingkat delay sangat tinggi. Terutama sekali pada maskapai2 penerbangan bertarif murah. Hal ini mungkin karena untuk menghemat, maskapai antaralain menggunakan satu pesawat untuk melayani banyak jalur secara berkesinambungan.

    Waktu delay-nya pun bukan main-main rata-rata di atas 5 jam. Lantas kompensasi apa yang didapat konsumen? Jawabnya: Tidak ada. Salah sendiri kenapa sudah tau maskapai penerbangan tertentu sering delay, kok mau dipake juga? Ya, itu karena, sebagaimana saya pernah katakan bahwa konsumen di Indonesia tingkat solidaritasnya termasuk sangat rendah. Sebelum mengalami sendiri mereka tidak perduli terhadap pengalaman buruk orang lain.

    Konsumen yang mengalami delay, biasanya dibiarkan telantar begitu saja di ruang tunggu bandara. Parahnya delay tersebut biasanya terlambat diumumkan dengantanpa alasan yang jelas. Bahkan sampai calon penumpang komplain pun, biasanya ditanggapi oleh petugas di bandara terkesan cuwek bebek. Sebenarnya bukan maksudnya cuwek bebek, tetapi karena koordinasi di lapangan sangat buruk di antara para petugas di sana. Sehingga informasi yang sampai ke calon penumpang pun kerap “ngambang”, serba tidak [pasti, atau simpang siur. Membuat calon penumpang semakin lengkap penderitaannya. Itu terjadi karena tingkat keperdulian terhadap nasib/kenyamanan penumpang rendah. Bayangkan saja, bagaimana kalau anda yang harus menghadiri suatu acara penting, mengalami delay sampai berjam-jam tanpa ada kepastian?

    Kalau pihak maskapai yg hobby-nya bikin calon penumpangnya sengsara karena menunggu, apakah pihak pemerintah, dalam hal ini Departemen Perhubungan perduli? Jawabannya di atas kertas, secara teoritis, sangat perduli.

    Buktinya Menteri Perhubungan sampai memberlakukan Keputusan Menteri Perhubungan No 25 tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Angkutan Udara, yang mengatur bahwa maskapai penerbangan niaga terjadwal yang mengalami delay wajib memberi kompensasi yang pantas kepada semua calon penumpangnya,

    Dalam aturan tersebut juga disebutkan, keterlambatan antara 30 menit hingga 90 menit, penumpang harus diberi minuman ringan dan makanan ringan, delay antara 90 menit hingga 180 menit, maskapai harus minuman, makanan ringan, makanan siang atau malam, dan memindahkan penumpang ke penerbangan berikutnya apabila diminta oleh calon penumpang.
    Untuk keterlambatan lebih dari tiga jam, maskapai wajib memberi minuman, makanan ringan, makan siang atau malam, dan apabila penumpang tidak bisa dipindah ke penerbangan selanjutnya atau maskapai lain, maka calon penumpang wajib mendapatkan akomodasi untuk dapat diangkut pada penerbangan hari berikutnya.
    Prakteknya?

    masih bertubi-tubi kita mendengar dan membaca pengalaman buruk para calon penumpang yang mengalami delay sampai berjam-jam tanpa ada kompensasi yang layak. Sementara maskapai penerbangan yang bersangkutan tidak mendapat sanksi apapun. Sehingga keberadaan Surat Keputusan Menteri Perhubungan tersebut di atas hanya menjadi bahan lelucon saja.

    Comment by malindokini | September 7, 2008 | Reply


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: