Suara Rakyat Republik Indonesia

Taxiku Tidak Bertanggungjawab

Jumat 5 September 2008 sekitar pukul 16.30, saya dan seorang rekan
kerja menggunakan taksi TAXIKU (HIBA Group) dengan armada Toyota
Soluna dari lobi ITC Kuningan menuju Gedung Great River, Kuningan.
Seorang petugas TAXIKU bertanggung jawab mengatur trafik penumpang
taksi dan mencatat kertas data log yang berisi nomor taksi, nama
pengemudi dan lokasi tujuan penumpang. Namanya Rendra (021-68775500) .

Sepanjang perjalanan kami berdua duduk dibangku belakang dan tidak
menemukan masalah. Sekitar pukul 17.00 kami tiba di tempat, keluar
dari Taksi, menurunkan barang bawaan, dan membayar ongkos. Karena
banyaknya barang yang harus diturunkan, kami sedikit kewalahan. Supir
mendesak untuk cepat-cepat agar tidak dicharge biaya parkir masuk
gedung. Kami tidak mendapatkan bantuan dari supir untuk membantu
menurunkan barang bawaan dari bagasi. Untuk informasi bahwa sewaktu
Rendra akan mencatat lokasi tujuan rekan saya menjawab menuju DEPKES
dengan maksud memudah supir memahami lokasi sebab Gedung Great River
memang berseberangan dengan Depkes

Begitu selesai menurunkan semua barang bawaan dan menutup pintu
bagasi, supir melaju dengan kencang untuk keluar area gedung.
Akibatnya, tak sengaja saya meninggalkan HP Nokia tipe 9300 dibangku
belakang, isinya berbagai data kerja dan nomor-nomor penting. Spontan
saya mencoba menghubungi HP saya tetapi tidak diangkat.
Saya putuskan kembali ke ITC Kuningan menemui Rendra untuk mengetahui
detail data supir taksi yang saya tumpangi. Sepanjang perjalanan saya
terus mencoba menghubungi HP dan tetap tidak diangkat. Sekedar
informasi, HP telah saya lindungi dengan security code, orang lain
tidak akan bisa membuka isi data didalamnya atau bahkan mematikan HP
tanpa memasukan nomor sandi.

Sesampainya di ITC Kuningan, Rendra memberikan informasi bahwa supir
yang mengantarkan saya adalah R.S Anto dengan nomor body 036, lokasi
pool di Depok. Dia pun berusaha untuk menghubungi supir tersebut
tetapi tidak berhasil. Tanpa pikir panjang, saya mengambil keputusan
untuk pergi ke pool Depok dan tiba di lokasi sekitar pukul 21.30.
Sepanjang perjalanan ke Depok, HP saya masih dalam keadaan aktif
hingga pukul 21.15. Di pool, saya menunggu sang supir berjam-jam dan
hasilnya, HP tetap tidak ada dan sang supir mengaku tidak tahu menahu.
Ia mengatakan pada sore hari hanya mengantarkan penumpang menuju Taman
Rasuna.

Akhirnya, salah satu manajemen TAXIKU Depok, Bapak Ishak
(081383010333) mencoba menghubungi Rendra, menanyakan informasi lebih
detail lagi. Hasilnya, malah ada supir lainnya yang kemungkinan
mengantarkan saya, dengan tujuan Depkes. Kami memang biasa mengatakan
tujuan Depkes sebab Gedung Great River memang berseberangan dengan
Depkes.Namanya Yosep dengan nomor body 199, pool Joglo. Bapak Ishak
juga mengatakan bahwa tidak semua armada Soluna TAXIKU dilengkapi
radio pemanggil. Betapa kecewa mendengarnya, apalagi informasi yang
saya dapatkan tidak akurat.

Esoknya, 6 September saya ke pool Joglo TAXIKU pukul 10.00 untuk
bertemu Yosep. Hasilnya tetap sama, bahkan salah satu yang bertanggung
jawab, Bapak Riski (021-71002121) mengatakan pihak manajemen tidak
bisa berbuat banyak. Terutama jika supir tidak mengaku karena
bagaimanapun, supir merupakan “mitra” dari TAXIKU. Bapak Riski
memberikan jawaban terserah saya, seolah tidak bertanggung jawab
dengan keadaan ini.

Padahal informasi yang diberikan mengenai Yosep sangat menyudutkan dia
dalam kasus ini. Hanya dia yang melayani penumpang ke Depkes antara
pukul 16.00-17.00 dari ITC Kuningan. Jarak waktu saya menelpon HP yang
hilang dengan turun dari taksi tersebut sangat cepat, tidak ada waktu
untuk menaikan penumpang baru. Sikap mereka seolah penumpang baru yang
mencuri.

Senin 8 September 2008 Bapak Riski menghubungi saya, beralasan data
log penumpang yang terdapat di ITC Kuningan kemungkinan tidak akurat.
Lalu, kemungkinan supir yang saya tumpangi bisa di pool Cakung atau
Cinere. Ia terkesan menyalahkan saya sebagai konsumen atas kejadian
ini dan dan tidak ada kompensasi ganti rugi. Lucunya Bpk Otto Isman
Selaku Kepala Bagian Pemasaran TAXIKU berkilah dibeberapa media bahwa
tidak ditemukan di kertas data log tujuan Plaza Grat River, padahal
saya sudah menjelaskan berkali-kali bahwa tujuan kami adalah DEPKES
(bersebrangan dengan Plaza Great River)

Apakah seperti ini yang dilakukan TAXIKU pada konsumennya sebagai
bagian dari Grup transportasi ternama? Di tengah persaingan bisnis
taksi yang ketat di Jakarta, mereka malah merusak citranya dengan
melepaskan tanggung jawab dan menutup-nutupi. Apakah ini karena bentuk
“mitra” sehingga supir harus dilindungi oleh manajemen sementara
konsumen ditelantarkan? Oleh karena itu sebagai konsumen
berhati-hatilah menggunakan TAXIKU.

OKY TAUFIK
Jl.Penjernihan
Jakarta Pusat

Advertisements

September 23, 2008 Posted by | Layanan Umum, Transportasi | | Leave a comment

Pemilik Rumah Makan Di Pekanbaru Mengeluh

Pekanbaru, TR.Com – Banyak pemlik rumah makan atau restaurant di Pekanbaru mengeluh mendengar akan adanya Surat Keputusan (SK) larangan berjualan selama bulan ramadhan. Adanya larangan ini mengancam perekonomian masyarakat.

Seperti salah satu pemilik restoran dan beberapa kedai kopi di jalan Hang Tuah Pekanbaru khawatir akan adanya isu ini. “Bagaimana mungkin kami dapat merayakan lebaran dan idul fitri tahun ini kalau kami sendiri dilarang cari makan. Padahal saya perlu cari duit untuk beli baju anak-anak saya untuk lebaran ini,” kata pemilik restauran yang tak mau namanya di ekspos.

Herman, salah satu pekerja rumah makan di sekitar jalan M. Yamin mengatakan kepada TR.Com (13/8) bahwa dirinya sangat tidak setuju larangan membuka rumah makan selama bulan puasa. Saya sangat tidak setuju rumah makan atau kedai kopi ditutup selama bulan puasa. Otomatis saya juga tidak akan kerja dan tidak akan digaji. Jadi saya mau makan apa? Dan bagaimana dengan ongkos saya mau mudik ke kampung kalau saya tidak ada gaji? Saya rasa puasa tidak dimaksudkan untuk membuat orang sengsara,” kata Herman yang mengaku akan pulang kampung ke Bukit Tinggi lebaran ini.

Sementara pemilik kedai kopi bernama pak Asung dijalan Hang Tuah mengatakan hal senada. “Satu bulan rasanya cukup lama. Omset saya pasti akan hilang drastis. Padahal saya perlu uang untuk menyekolahkan anak saya. Menurut saya SK larangan berjualan tidak perlu dilakukan. Bukan tidak menghormati saudara kita yang beribadah puasa namun karena kebutuhan ekonomi juga. Lagipula batal tidaknya puasa kan bukan dikarenakan kami jualan. Kami kan tidak memaksa orang harus minum atau makan. Saya rasa puasa juga akan batal kalau menghalang-halangi orang cari makan secara halal karena akan mengakibatkan orang lain menderita,” kata Asung.(hm)

Komentar Pembaca :

by YAK @ 13 Aug 2008 09:05 pm

SK nya dari siapa? Tahun lalu baru berupa himbauan. Itupun kena “razia”.

Sudahlah PLN menyengsarakan rakyat, sekarang ditambah lagi dengan SK yang membunuh.Ayo, kita kompak tak usah bayar pajak lagi !!!

by H. Burhanuddin @ 14 Aug 2008 05:33 am

Pemerintah Kota Pekanbaru tindakannya sudah melebihi Nabi Besar Muhammad SAW. Wahai Pak Wali, anda bukanlah Nabi..anda hanya manusia biasa. Janganlah engkau tutup kedai kopi dan rumah makan, sementara satpol PP mu justru membukanya. 3 hari pertama puasa mungkin ditutup tapi hari ke 4 dan selanjutnya dibuka walau hanya setengah pintu dan keberadaanya dilindungi oleh satpol pp  alangkah lebih baik puasa ini anda lakukan audit internal karena banyak sekali anak buah pak wali yang korupsi. Haram itu pak, batal puasanya nanti..hahaha

September 21, 2008 Posted by | Sosial | | Leave a comment

First Media tidak profesional

Assalamu’alaikum wr.wb.

Saya pelanggan firstmedia no 606997 Sejak sekitar akhir bulan juli 2008, internet saya bermasalah, terutama saat pagi hari sekitar jam 08.00 – 13.00, Selain jam itu juga kadang bermasalah, Cuma nggak setiap hari.  Sejak bulan agustus hinggal sekarang saya mangkin sudah RATUSAN kali
telpon ke customer service dan sama sekali tidak mendapatkan
tanggapan professional yang diharapkan. Apa firstmedia tidak meng
edukasi orang-orang “garis depannya”?. Seringkali dijanjikan teknisi
tetapi ternyata tidak jadi datang tanpa pemberitahuan. & ketika
teknisi datang ternyata teknisi yang tidak memahami permasalahn yang
sedang terjadi di internet saya, padahal saya sudah sering menjelaskan
kepada customer service, tentang permasalahan yang saya alami. Saya
sebenernya ingin bicara dengan pihak yang level nya lebih “mapan”
untuk menangani permasalahan saya. Saya capek bicara dengan pihak
customer service firstmedia, yang mohon maaf secara knowledge
sangat-sangat tidak memadai. Yang terjadi sampe sekarang permasalahan
saya sama sekali tidak ada progress sejak lebih dari DUA BULAN yang
lalu. Saya pernah menawarkan untuk berhenti berlangganan dan agar
fistmedia mengembalikan uang cable modem seharga Rp 500ribuan, karena
jika sudah berlanggan cable modem itu nggak ada gunanya buat saya,
tapi ternyata di tolak oleh pihak firstmedia, padahal saya mau membeli
tentu saja karena dijanjikan acces internet yang baik.Jujur saja saya
merasa tertipu.. Hati-hati kepada masyarakan, bahwa cable modem yang
anda beli dari firstmedia tidak murah & tidak dapat anda kembalikan,
walaupun setelah pasang anda tidak dijamin mendapatkan acces internet
yang baik. Saya yakin ada banyak pelanggan fistmedia yang bernasib
seperti saya. Sampe sekarang saya menunggu itikad baik fistmedia untuk
menyelesaikan masalah saya. Cuma jujur saja, saya ragu apakah
fistmedia cukup professional & punya etika bisnis yang baik untuk
menyelesaikan permasalahan saya. Dua bulan lebih saya rasa cukup untuk
menyimpulkan kinerja pelayanan pelanggan sebuah perusahaan.
Wassalamu’alaikum wr.wb.

Rofian777@yahoo.com

September 21, 2008 Posted by | Internet, Layanan Umum | | Leave a comment

Batavia Air: molor 10 jam, kompensasi sebungkus mi

Batavia jurusan Surabaya-Balikpapan kemarin (13/8) dengan penerbangan JP-251 memang sangat menyebalkan. Betapa tidak, tarif yang sudah cukup tinggi (Rp 870.000) dan pesawat yang seharusnya berangkat pukul 10.00 (pagi) ditunda beberapa kali, sampai akhirnya berangkat pukul 20.00 lebih. Betapa banyak orang yang dirugikan?

Petugas Batavia di Juanda memberikan informasi penundaan dengan tidak simpatik. Sebab, dia hanya memberi jawaban seperti alasan tukang parkir yang tidak bertanggung jawab atas kendaraan yang diparkir.

Bayangkan, ketika ditunda dari pukul 10.00 ke pukul 12.00, petugas hanya mengatakan pesawat sedang mengalami masalah teknis, sehingga baru berangkat pukul 12.00. Setelah ditunggu-tunggu, penumpang gelisah belum memperoleh informasi lebih lanjut. Ketika penumpang mulai marah, petugas bersikap arogan dan tidak memberikan penjelasan serta ketegasan mengenai keberangkatan.

Setelah didesak ramai-ramai, baru menjelaskan bahwa pesawat baru bisa berangkat pukul 16.30. Didesak mengapa demikian, petugas berkelit tanpa alasan jelas. Pada jam yang dijanjikan, tidak ada pemberitahuan lagi. Ketika penumpang menggertak mengenai jam kepastian berangkat, petugas seenaknya mengatakan pesawat akan berangkat pukul 20.00. Gila sekali. Penjelasannya, pesawat rusak di Palangkaraya dan komponennya masih diambilkan dari Jakarta. Penumpang sangat marah, tapi petugas berusaha menghindar, bahkan mencibir penumpang.

Penumpang yang hendak membatalkan keberangkatan atau minta berangkat esok hari pun dipersulit dengan alasan penerbangan untuk 14 Agustus sudah penuh. ”Penuh? Siapa yang membuat kami seperti ini?” kata sorang calon penumpang.

Setelah digertak secara keras, beberapa orang baru bisa diberangkatkan esok harinya. Batavia tidak bertanggung jawab penuh terhadap penumpangnya? Kompensasi yang diberikan? Cuma makan sebungkus mi. Tidak ada penghargaan sama sekali kepada calon penumpang yang ditelantarkan.

VRITA INDAHRINI, HP 08152030….

September 7, 2008 Posted by | Penerbangan, Transportasi | , | 1 Comment

T-Cash Telkomsel bermasalah

Saya sebagai pengguna telkomsel merasa dikecewakan. Pada 21 Juli 2008 saya mendaftarkan nomor (0852.8424 2777) saya agar bisa menikmati fasilitas TCash dari telkomsel. setelah baca syarat dan ketentuan pada situs resmi telkomsel (www.telkomsel. com), saya tertarik untuk mendaftar, dikarenakan berbagai iming-iming menarik, mulai dari belanja hingga top up (isi pulsa) via TCash.

Yang terjadi justru sebaliknya, setelah saya terdaftar sebagai fasilitas full service, saya mencoba untuk menikmati fasilitas top up pulsa, tapi hingga hari ini saya belum bisa menikmati fasilitas tersebut. yang lebih mengecewakan lagi, ketika saya mencoba mengadukan hal tersebut ke gerai halo cabang Bintaro Plaza, sang Customer Service malah bertanya “Tcash apa ya pak??”

What???????? ???????

Customer Service resmi tidak tahu produknya??? ????????? ?

Kalau begini saya harus bertanya sama siapa???? saya langsung lemas sembari meninggalkan gerai halo dengan perasaan kecewa,,,,,, ,,,,

Kecewa yang luar biasa,,,,,,, ,

Saya mencoba menenangkan diri dan berpikir jernih, kepada siapa saya harus bertanya, lalu saya coba menghubungi 116, mereka berkata tidak ada masalah, dan silhakan dicoba secara berkala. setiap hari saya mencoba hingga 5 kali juga tidak ada hasilnya.

tanggal 23 Juli saya hubungi kembali 116, tetapi mereka tetap pada pendirian mereka bahwa tidak ada masalah pada dan CSnya mencoba membantu mengadukan maslah tersebut kepada kantor pusat (Aneh,,,, padahal call centre merupakan bagian dari kantor pusat,,,, atau telkomsel punya kebijakan sendiri bahwa call centre merupakan kantor cabang?????? ?????)

Tidak tahan karena hanya menunggu tanpa kepastian akhirnya saya mencoba mengadukan ke GraPARI, BSD, pada tanggal 9 Agustus 2008 diterima oleh CS bernama LISA,

Cukup baik dan cukup mengerti tentang produknya, namun kekecewaan tetap terjadi, setelah saya mengadu dan akhirnya dibuatkan form pengaduan tersebut, dikarenakan saya ke GraPARI hari sabtu, jadi menurut LISA orang TCash di GRapari tersebut tidak ada dan akan segera di follow upo ke ybs,

Hari senin saya dihubungi oleh pihak GraPARI BSD, dan menanyakan tentang TCash dan Tampilan text balasan atas kegagalan top up pulsa tersebut, dan setelah saya beritahu sang penelpon hanya berkata “OK, akan saya coba cari tahu disini”.

Hanya itu????????? ??

Masalah tidak selesai hanya dengan mencari tahu saja, karena sampai minggu berikutnya TCash top up pulsa belum bisa digunakan sebagaimana mestinya.

Tanggal 15 Agustus 2008, saya kembali ke telkomsel pada jam 12.30 saya lupa siapa yang menerima saya, tapi jika memang dibutuhkan saya masih teringat wajahnya yang mencoba menasehati saya dan berharap saya tetap bersabar.

Mungkin Telkomsel punya standar tertentu dalam launching produk, menurut CS tersebut memang sempat ada masalah IT pada produk TCash full service

What???????? ????????? ?????????

Iklannya di media halo dan di media cetak lainnya lumayan banyak,,,,,, padahal produk tersebut belum siap untuk di launch ke publik (karena masih ada masalah IT,,,,, bagaimana ini?????? berapa banyak pelanggan yang dirugikan oleh pihak Telkomsel,,, ,,,,

Dan CS tersebut berkata sebelum saya meninggalkannya “Sabar aja dan berdoa semoga masalahnya cepat selesai”

sekali lagi WHATTTTTTT?? ????????? ????????? ?

Hingga hari ini saya belum bisa menikmati fasilitas topup pulsa yang telah diiming-imingi di berbagai media,,,,,

sekarang kita coba berhitung yach

Tanggal 21 Juli 2008, saya daftar TCash dan langsung mencoba fasilitas top up, jika sehari mencoba 5 kali dan pada saat saya tulis mail ini sudah 3x mencoba,

31 hari x 5 = 155 kali saya telah mencoba

155 x Rp. 149 = Rp. 23.095

Saldo yang sudah saya simpan Rp. 200.000

Total kerugian saya Rp. 223.095,-

Jika uang tersebut digunakan untuk usaha ataupun diendapkan di suatu bank dengan bunga yang terkecil sekalipun maka hasilnya

Rp. 223.095 x 5% = 11.155,- (dengan pembulatan 0.25)

maka total yang bisa saya peroleh Rp. 234.250,-

Tapi hingga hari ini tidak ada satupun niat baik dari telkomsel untuk memperbaiki sistem atau sistem belum siap dan jangan mencoba dulu,,,,

karena setiap saya bertanya ke Call centre saya selalu mendapat jawaban “Dsini tidak ada masalah, silahkan dicoba secara berkala”…. ..

Mohon kiranya telkomsel lebih melakukan trial and errorr sebelum launch produk ke publik, agar kiranya tidak ada pelanggan yang dikecewakan. ……

Untuk pelanggan telkomsel lainnnya agar berhati-hati dalam dan bersabar jika ingin menikmati berbagai fasilitas dari telkomsel,

*)Pelanggan ‘setia’ Telkomsel

September 5, 2008 Posted by | Layanan Umum | , | 2 Comments

Speedy yang ‘lemot’

Saya ingin sharing tentang bandwith management speedy,
Demi perbaikan speedy, karena saya sudah menggunakannya kurang lebih 2 tahun
Mudah-mudahan ada manajemen Telkom yang bisa membantu.

Hasil speedtest terbaru : http://www.speedtes t.net/result/ 305491420. png

http://suarapembaca .detik.com/ read/2008/ 08/06/115011/ 983820/283/ keanehan- bandwith- management- speedy

Sejak Link International Speedy sekitar tanggal 18 Juli 2008 sempat down pada pagi hari (No Ticket Complain Speedy saya S.0718.1035) , link internet download international di kantor saya sangat lama (stabil di kecepatan kurang lebih 60-100kbps). Sedangkan link download lokal normal berkisar 600kbps.

Saya sudah melapor ke 147 empat kali. Akan tetapi trouble ticket saya selalu ditutup tanpa penyelesaian memuaskan.

Nomor pelanggan speedy saya 121604200022.

Berikut nomor trouble ticket 147 saya:
S.0724.2696 diclose oleh SURATMIN.
S.0725.2597 diclose oleh N_AKBAR dgn alasan nomor kantor saya tidak diangkat (ditelepon jam 9 malam kantor memang tutup) dan nomor handphone saya tidak pernah  dikontak.
S.0801.3091 diclose tanpa dihubungi sekali pun.
S.0805.1622 belum mendapat respon dari bagian bandwith management.

Saya kecewa karena harus membayar mahal Speedy. Plus overekspektasi dengan promo speed 1 Mbps malah mendapat stabil kecepatan 60-80kbps.

Mohon Direksi memerhatikan keanehan dalam bandwith management di kalangan network administrator karena walaupun malam speed-nya tetap hanya 60-100kbps.


Best Regards,
Dharmawan Lie
Prapatan Raya 30 C – Kwitang – Jakarta
YM : dhara_ok – HP : 0815-6056-606

September 5, 2008 Posted by | Internet, Layanan Umum | | 2 Comments

Teror Debt Collector HSBC

Saya Menjadi Nasabah Bank,berharap lepas dari jerat resiko rentenir dan kekerasan, karena keramahan dan janji marketing layanan yang akan memberikan layanan profesional.

Namun perjalanan waktu, harapan tinggal harapan.Layanan yang lebih profesional, ramah tamah, bersahabat, tidak seperti penagih-penagih rentenir pasar dengan bergaya jago pasar, ternyata meleset.

Menjadi nasabah HSBC, ketika sedang mengalami kesulitan, tak ada toleransi, ancaman demi ancaman selalu menghantui, tak hanya mesin pengisap rente, yang akan membungakan terus menerus hutang, namun juga kekerasan verbal-ancaman2 selalu dilakukan oleh kolektor HSBC, bahkan seakan telah menjadi standar HSBC, meskipun sudah dilakukan konfirmasi berulang-ulang ke pihak HSBC, namun HSBC tidak peduli.

Begitu pula ketika datang ke Kantor HSBC Menara Mulia Lt 18, untuk coba menjelaskan kondisi kesulitan yang dialami nasabah. HSBC tetap tidak memberikan toleransi ketidakberdayaan nasabah.

Nasabah ingin mengajukan penyelesaian hutang dengan cicilan lebih ringan,masa waktu lebih panjang, meskipun tetap dikenakan bunga, namun komitmen menunaikan kewajiban, diharapkan tidak menambah resiko bunga-berbunga pinjaman kartu kredit maupun ‘ancaman-teror’ dari kolektor HSBC.

Namun HSBC tetap menuntut nasabah melunasi hutang-hutang, dengan resiko bunga berbunganya. Kalau memang tidak bisa mengikuti ketentuan HSBC yang masih terasa berat bagi nasabah ditengah kesulitan sat ini. ( Namun berdasarkan informasi lain, bila melalui  Debt Collector HSBC proses ini dapat dilakukan ? Tetapi kenapa dengan itikad  pribadi tidak ada kompromi ? Tak mungkin saya, tahan dengan kejaran debt collecot HSBC terus menerus…)

Pengalaman buruk dengan HSBC yang kesekian kalinya,ternyata nasabah terjebak ‘Rentenir’ dan ‘Preman’ modern dan yang dilegalkan.

Bank HSBC, bertaraf international, tidak peduli nasabah, hanya mengambil keuntungan.

Jeritan Nasabah Kartu Kredit HSBC 4544 9311 04xx xxxx

September 5, 2008 Posted by | Kartu Kredit, Perbankan | , , , | 9 Comments

Indonesia, republik dengan 742 bahasa.

17 Agustus 2008 ini, Republik Indonesia genap berusia 63 tahun. Sepanjang masa itu pula, nusantara yang konon terdiri dari sekitar 17 ribu pulau tumbuh dalam keberagaman. Suku, agama, ras, budaya dan juga bahasa. Mungkin susah mencari tandingannya di seluruh muka bumi ini dalam hal keberagaman.

Pluralisme itu, mungkin, adalah kekuatan sekaligus lem perekat republik ini dalam berbangsa. Lihatlah, rakyat Indonesia ada yang berkulit kuning, cokelat, bahkan yang hitam legam. Semua tumbuh bersama.

Memang harus diakui, dalam perjalanannya, Indonesia juga diwarnai kerusuhan antarkaum, antaragama, dan antar strata sosial ekonomi. Tapi itu tidak pula mampu meretakkan bangunan republik ini sebagai negara kesatuan. Bhineka Tunggal Ika.

28 Oktober 1928, pemuda Indonesia telah memaklumkan tekadnya yang bertajuk ‘sumpah pemuda’, yang salah satunya adalah kesepakatan untuk menggunakan satu bahasa, yaitu bahasa Indonesia. Tapi itu bukan bermakna, rakyat Indonesia tidak boleh menggunakan bahasa lain. Di persada nusantara ini ada 742 bahasa daerah yang digunakan oleh penduduk tempatan. Orang Jawa bercakap menggunakan bahasa Jawa, orang Sunda bertutur dengan bahasa sunda, orang Padang berbincang dengan bahasa Minang.

240 juta penduduk dengan 742 bahasa. Hebat! Apakah selama ini ada diantara kita yang peduli pasal ini? Bahasa apa saja itu? Adakah diantara kita yang ‘care’ untuk mempelajari dan membuat dokumentasi masalah bahasa asli Indonesia ini? Para ahli bahasa mungkin paham pasal jumlah dan wilayah sebarannya. Tetapi apakah mereka sudah melakukan penelitian dan mendokumentasikannya secara ilmiah?

Dari 742 bahasa itu, yang tersebar dari Sabang sampai Merauke, hanya ada 13 bahasa yang pemakainya lebih dari 1 juta orang. Maknanya ada 729 bahasa yang hanya dipakai oleh penduduk tempatan yang jumlahnya kurang dari 1 juta. Malah 169 bahasa diantaranya hanya digunakan oleh kurang dari 500 orang, atau mungkin dalam bahasa sederhananya boleh dikatakan bahasa itu hanya dipakai oleh penduduk sekampung.

Bahasa-bahasa itu, tentu saja, terancam punah jika pemerintah dan kita semua tidak peduli. Bahkan ia bisa punah tanpa catatan sejarah jika tak ada dokumentasi akademiknya.

Bahasa yang terancam punah itu, menurut pakar Departemen Linguistik Universitas Indonesia, Multamia RMT Lauder, tersebar di wilayah Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, Maluku dan Papua. Bahasa ‘Lom’ di Sumatera, misalnya, hanya digunakan oleh sekitar 50 orang. Sementara bahasa ‘budong-budong’ di Sulawesi hanya dipakai sekitar 70 orang, bahasa ‘’dampal’ dipakai oleh 90 penduduk, ‘bahonsai’ oleh 200 orang, ‘baras’ oleh 250 orang.

Gawatnya lagi, ada bahasa yang hanya digunakan oleh 1 hingga 3 orang saja. Wah, saya sampai tak bisa membayangkan. Dalam hitungan hari atau bulan bahasa itu akan hilang dari sejarah. Bahasa ‘hukumina’ di Maluku, konon, hanya dipakai oleh 1 orang. Loh, jadi, bahasa ini dipakai berbincang dengan siapa?

Masih di Maluku, bahasa ‘kayeli’ menurut catatan hanya dipakai oleh 3 penduduk, sementara bahasa ‘kaela’ digunakan oleh 5 penduduk, ‘hoti’ oleh 10 penduduk, ’hulung’ oleh 10 orang. Setali tiga uang, alias sama saja kondisinya, di Papua, dulu Irian Jaya, bahasa ‘mapia’ juga hanya digunakan oleh 1 orang, sementara bahasa ‘tandia’ pleh 2 orang.

Tentu saja masih banyak lagi bahasa-bahasa lain yang keberadaannya tidak dikenali. Mungkin jumlah bahasa di negeri ini lebih dari sejuta. Siapa yang tahu? Apalagi menurut Multamia, banyak diantara bahasa-bahasa yang hanya digunakan oleh sedikit orang itu adalah bahasa yang tidak mempunyai tulisan.

Mencermati situasi ini, saya menjadi tergelitik untuk membuat dokumentasinya, tentu saja yang sesuai dengan bidang yang saya pahami, yaitu audio visual. Saya ingin mendokumentasikan bahasa-bahasa daerah itu dalam bentuk filem dokumenter. Mungkin sepotong-sepotong, kemana pun saya pergi saya akan mengumpulkan percakapan orang-orang tempatan menggunakan bahasa aslinya. Mungkin itu hanya akan menjadi koleksi pribadi, yang akan memenuhi video library saya, tapi saya percaya suatu saat nanti itu akan bermanfaat.

Kalau bukan kita yang peduli dan memulainya, siapa lagi yang kita harapkan?

Selamat memperingati hari kemerdekaan, 17 Agustus 2008. Merdeka!

Didik Budiarto

August 13, 2008 Posted by | Indonesiana, Sosial | | 1 Comment

Salendra: “Saya ditipu PJTKI”

Nama saya Salendra, umur 37 tahun, lulus SLTA, sekarang jadi pekerja kontruksi, tak berdokumen, di Precint 15, kawasan Putrajaya, Malaysia; asal dari Lampung Selatan.

Saya lari dari majikan saya di sebuah perkebunan pisang di kawasan Yomping, Malaysia. Semua dokumen saya dipegang majikan saya, orang Cina. Saya digaji terlalu kecil, sementara pekerjaan berat.

Saya baru saja mulai bekerja di Malaysia, 2007. Usaha saya di desa bangkrut. Lalu saya putuskan untuk jadi buruh migran. Tapi, sampai di sini, besarnya upah saya tidak sesuai dengan yang dijanjikan oleh calo di daerah asal saya, Lampung Selatan, dan yang juga dijanjikan oleh PJTKI yang mengirim saya: PT Mangun Jaya Perkasa di Jakarta Timur. Padahal saya sudah membayarkan uang perekrutan sampai Rp7juta.

Waktu di kebun pisang, upah saya hanya RM21 per hari, lama bekerja sampai 9,5 jam per hari. Potong gaji selama tiga bulan. Tak ada jaminan apa-apa, tak terkecuali untuk kesehatan. Padahal peralatan kerja harus beli sendiri. Selama ini saya baru bisa mengirimkan uang satu kali saja ke desa, sebanyak RM1.400. Anak saya tiga orang di desa. Saya merasa sangat bersalah pada istri saya.

Agen saya di Malaysia namanya Bonhon Sdn. Bhd. Berkantor di jalan Yomping, Malaysia. Saya lari menerobos pagar kawat berlistrik bersama dengan dua orang teman yang lain. Masih banyak ada teman-teman lain yang berasal dari Indonesia di perkebunan itu. Semuanya mengalami nasib yang sama, yaitu ditipu oleh PJTKI dan calo.

August 13, 2008 Posted by | Perburuhan | , , | 1 Comment

Trans TV tidak fair

Kenapa ya…… stasiun televisi sekelas trans tv, masih melakukan hal hal yang gak fair, tapi itu menurut saya.

kenapa saya berani bilang seperti itu……..
hari ini tanggal 10 agustus pada tayangan good morning item wawancara doni tata pradita, itu sangat jelas bahwa logo (kiup) mic yang dipegang oleh doni tata adalh mic nya trans 7, tapi dalm tayangan tersebut oleh trans tv tulisan logo tersebut di samarkan.

Menurut saya jika memang pada saat itu trans tv tidak melakukan peliputan dan gambar itu adalah gambar yang diambil oleh kru liputan trans 7, kenapa trans tv tidak fair untuk mau mengakui bahwa memang mereka meminta gambar itu pada trans 7, ya paling trans tv harus mencantumkan courtesy atau semacamnya bahwa gambar itu bukan diambil oleh kru mereka.

dan menurut saya hal seperti ini lumrah, apalagi trans tv dan trans 7 adalah berada dalam satu group, hal sama juga sering dilakukan oleh RCTI, dengan TPI atau Global Tv, mereka tiga perusahaan ini tidak merasa terhina dengan mencantumkan courtesy masing masing, justru menurut saya itu lebih adil bagi kru yang memiliki hasil karya tersebut.

saya ngak tahu apakah hal yang dilakukan trans tv kepada trans 7 seperti contoh diats dapat dikategorikan sebagi pelanggaran hak cipta atau bukan, tapi kalau menurut saya itu adlh pelanggaran hak cipta, yaitu dengan sengaja memanfaatkan hasil karya orang lain untuk kepentingan diri sendiri dengan tidak mencantumkan yang punya karya tersebut. itu namanya culas.

Lanang Anom (be_kisar@yahoo.co.id), dari milis media care

August 11, 2008 Posted by | Media | | 1 Comment